Selasa, 19 Agustus 2008

Apa yang kita rasakan dan apa yang terjadi selama ini merupakan sebuah kebingungan yang teamat sangat. Betapa tidak, setiap hari manusia dihadapkan dengan kenyataan yang sangat berbeda. Manis, pahit, indah, kelam, hingga datar menjadi warna sehari-hari.

Keputusasaan, deprese, sakit, benci, sayang, jenuh, cinta, kesal, marah, sedih, sendu, sedan, pilu, menjadi hal lumrah yang terlihat mendominasi kehidupan. Semuanya berpangkal pada satu masalah, masalah manusia yang akan selalu hilir mudik sepanjang nafas masih mengalir. Karena, hidup ini merupakan sebuah pilihan.

"Saya salah langkah. Itu saja. Saya ingn mencoba sebuah peruntungan baru," kata seorang teman yang berprofesi sebagai seorang reporter di SINDO Jabar dengan inisial Krisiandi Sacawisastra dalam tag line status Yahoo Messengernya.

Itulah salah satu resiko dari sebuah pilihan. Semua pilihan memiliki resikonya masing-masing. Rendah, sedang, ataupun berat tingkat resiko yang akan ditanggung, igtu masalah belakangan. Yang pati, Kris sudah berani mencoba apa yang namanya sebuah pilihan. Tak jarang, banyak manusia kebingungan ketika dihadapkan dengan sebuah pilihan.

"Pilihanku, itu resikoku," begitu sahut salah seorang sobat karib semasa kuliah dulu, Maula Noorhadied berprinsip.

Andai semua manusia bisa melihat apa yang akan terjadi hari esok...
semua orang mungkin pernah memiliki angan seperti itu. Namun, dibalik itu semua orang-orang tersebut ketakutan untuk menjatuhkan pilihan dan menanggung resikonya kelak.

Well, namanya juga resiko. Konotasi negatuf langsung didaratkan secara bertubi2 kepada resiko yang lahir dari sebuah pilihan tadi. Siap atau tidak, resiko itu harus dihadapi dan diselesaikan sesuai dengan porsinya.

Namun, kadar resiko tersebut bisa dikurangi untuk beberapa jenis pilihan. Tapi, tidak sedikit juga seseorang dipusingkan dengan pilihan yang begitu berat, begitu rumit, dan sulit dibedakan.

"Saya sekarang masih jalan (pacaram,red) dengan 2 orang wanita. Keduanya menanggapi secara serius dan akhirnya saya kebingungan memilih yang mana. Ini memang sebuah pilihan yang harus saya ambil. Saya tidak mungkin memilih keduanya atau meninggal;kan keduanya. Harus adayang dikorbankan dalam kasusu saya ini. Meskipun saya tidak bisa memungkiri hati saya pasti ikut menjadi korban," keluh seorang rekan kerja.

Anyways,,,,,
hidup emang gak bisa dipisahkan oleh sebuah pilihan. Sayapun begitu, saya sudah memutuskan untuk menikahi seorang gadis cepat ataupun lambat. Yang pasti, saat ini saya menyayangi dia dan (semoga) diapun melakukan hal yang sama. Kembali saya sebut 'dia' dengan pertimbangan yang sama. Keputusan saya menikahinya berarti saya siap dengan resiko yang harus ditanggung dari pilihan tersebut. Karena sekali lagi....hidup itu sebuah pilihan...

see yaa dude!!!
autism is not a crime

Tidak ada komentar: