Minggu, 17 Agustus 2008

ga penting....never mind...

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar optimistis provinsi ini bisa mencapai target produksi padi sebanyak 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2008.

Entang Sastraatmaja, Wakil Ketua HKTI Jabar memperkirakan musim kemarau yang melanda sebagian wilayah Jabar tidak akan mengganggu produksi padi secara signifikan.

“Produksi padi Jabar tidak akan terganggu walaupun ada lahan yang kering, asalkan produktivitas pertanian padi meningkat,” katanya kepada Bisnis pekan lalu.

Dia mengemukakan beberapa faktor yang bisa meningkatkan produktivitas padi Jabar walaupun ada hambatan kekeringan, seperti penggunaan benih unggul, cara bercocok tanam yang lebih baik, serta penggunaan teknologi untuk kegiatan paskapanen.

Tingkat produktivitas padi Jabar, rata-rata mencapai lebih dari 5,2 ton per hektare per tahun, di atas tingkat produktivitas padi secara nasional sebesar 4,7 hingga 4,8 ton per hektare per tahun.

Produktivitas padi Jabar, kata dia, masih bisa meningkat lagi karena hingga saat ini tingkat kehilangan padi (losses) masih cukup tinggi sekitar 15% hingga 16%.

Pemicu tingginya angka losses ini, adalah perlakukan tanaman padi pada masa panen yang hanya menggunakan ketam atau ani-ani.

Selain itu, untuk memisahkan butiran gabah dari tangkainya, proses tradisional dengan memukul-mukulkan batang padi juga memberikan nilai losses yang tinggi.

“Kami akui premanisme dalam proses panen padi masih banyak terjadi, perilaku ini yang harus diubah,” katanya.

Selain itu, kata dia, penerapan teknologi mesin pemisah padi dari tangkainya menggunakan alat, seperti power tractor masih sangat kurang.

Dia memperkirakan, penggunaan teknologi pada proses panen dan paskapanen baru sekitar 30% dari total lahan padi yang ada di Jabar.

Harga alat untuk panen padi itu, kata dia, tidak terlalu mahal sekitar Rp5 juta per unit.

“Petani menunggu adanya bantuan, sehingga alat pemanen padi masih jarang digunakan. Sekarang tinggal pemerintah daerah saja yang harusnya lebih jeli dalam memberikan bantuannya kepada petani,” jelasnya.

Dengan penggunaan teknologi pada proses pemanenan padi, lanjut Entang, tingkat losses padi bisa ditekan di bawah 15%.

Lucki Rulyawan Djunaedi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Distan) Jabar mengatakan kekeringan yang melanda sebagian wilayah Jabar, terletak pada lahan golongan tiga yang memang tidak dialiri irigasi teknis dan tidak ada sumber air.

“Untuk golongan satu dan dua masih baik-baik saja, hal ini yang membuat kami optimistis target produksi padi bisa tercapai,” katanya.

Selain itu, kata dia, lahan padi golongan tiga yang mengalami kekeringan adalah lahan yang tidak dimasukkan dalam target produksi padi Jabar thaun 2008.

“Petani memaksakan diri untuk menanam padi karena tergiur harga gabah yang sedang bagus, tetapi akhirnya malah rugi karena kekeringan,” katanya.

Tidak ada komentar: